Fashion & Sustainability : Bagaimana Anak Muda Memilih



Di era yang serba canggih, tren fashion semakin berkembang dan akan terus bertukar seiring berjalannya waktu. Banyak anak muda menyesuaikan cara berpakaian mereka di manapun. Platform seperti TikTok, Instagram juga berpengaruh terhadap selera seseorang dalam memilih outfit, dengan tujuan ingin terlihat keren dan stylish. Bagi anak muda terutama generasi Z fashion bukan hanya sekadar berpenampilan, tetapi juga bentuk ekspresi diri dan keberhasilan dalam pemenuhan tren masa kini. Pengaruh media sosial menimbulkan rasa ingin membeli pakaian kembali. Misalnya, jika seorang influencer atau selebgram merekomendasikan ataupun memperlihatkan style yang digunakan, hal ini cenderung menimbulkan niat pengguna sosial media untuk mencontoh seakan akan style orang tersebut cocok dengan mereka. Hal ini disebut dengan outfit of the day atau yang biasa dikenal dengan istilah OOTD. Banyak hal yang memicu anak muda untuk selalu stylish, beberapa diantaranya yaitu platform yang menjual pakaian dengan harga terjangkau dan banyak pilihan model yang dianggap mengikuti perkembangan zaman, sehingga anak muda sangat tertarik dengan tawaran yang ada dan melakukan pembelian secara berulang. Faktor paling mendukung adalah banyak sekali anak muda yang berkeinginan untuk selalu mengikuti tren, jika tidak maka mereka akan berfikir “tidak gaul” sehingga hal ini sangat berisiko terhadap gaya hidup anak muda dengan tidak cermat yang akan berakibat pada rusaknya lingkungan. 
Sustainability pada fashion dimana produk yang digunakan bisa tahan lama, diproduksi dengan fair labor sehingga dapat meminimalisir limbah yang ada. Industri fashion dapat sangat merugikan jika tidak dikelola dengan bijak. Kasus limbah tekstil yang over menjadi pusat perhatian saat ini, rata rata orang tidak menggunakan pakaian jika 7-10 kali pakai, dan setelah itu dibuang dan mengakibatkan tumpukan limbah yang sulit terurai dan yang paling sering ketika menggunakan baju polyester, nilon yang tidak ramah lingkungan karena dari bahan tersebut dapat melepaskan mikroplastik setiap kali dicuci. Langkah apa yang akan dilakukan anak muda untuk menentukan pilihan terbaik mereka terhadap fashion?



Membeli pakaian thrifting / pakaian bekas
Belanja thrifting memberikan dampak yang signifikan pada lingkungan, industri fashion termasuk penyumbang limbah terbesar dan untuk meminimalisir hal tersebut, membeli pakaian bekas termasuk langkah efektif dalam mengurangi kerusakan lingkungan. Di tiap tahunnya industri fashion menyumbang jutaan ton pakaian di TPA karena tren fashion yang cepat menimbulkan kebosanan pengguna sehingga limbah ini menghasilkan tumpukan gas metana yang memperburuk pemanasan global. Dengan membeli pakaian bekas maka setidaknya kita mengurangi sedikit demi sedikit dari banyaknya sampah tekstil dan pakaian bekas bisa jadi milik pihak kedua yang lebih membutuhkan setelah proses yang panjang. Belanja thrifting menuntut kita untuk lebih selektif dan kreatif untuk menghindari terjadinya pemborosan dan pakaian yang dibeli dari thrifting pun tidak didapatkan di toko lain karena sifatnya yang “bekas” jadi satu macem model yang tersedia. Namun, ada tantangan bagi anak muda jika menerapkan sustainability diantaranya harga produk sustainable cendurung tidak masuk akal, dalam konteks barang bekas, jika thrifting viral dan pupuler maka harga yang ditawarkan bisa naik untuk produk yang tergolong bekas menjadi halangan anak muda untuk menerapkan sustainable. Dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak anak muda yang melakukan thrifting dengan membeli barang bekas, maka satu langkah kecil yang berdampak besar untuk lingkungan. 







Komentar

Posting Komentar